Kata Siapa Beasiswa Bisa Datang dari Langit Tanpa Diminta?

Tak kenal maka kenalan dulu. Nama saya Tria, 25 tahun, dan senang sekali punya kesempatan dapat sharing di rubrik ini. Saat ini saya sedang berjuang ‘keluar dengan ijazah’ dari Tohoku University, Sendai. Sebelumnya, Alhamdulillah – saya mendapat kesempatan untuk menyelesaikan Master saya di Kanazawa University, Jepang.

“Kamu emang hoki nya gede ya, bisa sekolah 2 kali di Jepang tanpa usaha..”

Nah, yang mikir seperti itu, Anda totally wrong! karena saya juga pernah gagal untuk meraih kesempatan sekolah di Jepang. Dan tentu saja, saya ngapa-ngapain! Here’s the story.

Saat itu saya masih S1 tingkat 3.  Seusai makan siang, saya tidak sengaja melewati International Student Office (ISO) yang di depannya terpampang besar pengumuman mengenai Junior Year Program in English (JYPE) di Tohoku University dan Young Scientists Exchange Program (YSEP) di Tokyo Institute of Technology. Dua program yang sangat menggiurkan bagi saya yang ingin sekolah ke Jepang. Saya mengikuti seleksi ini hingga babak akhir. Saat itu, pewawancara menanyakan pilihan program saya. Di situ lah, saya mulai bingung. Mau ke Tokyo ? atau Sendai ?  Dalam keraguan yang amat sangat, pilihan saya jatuh pada YSEP. Alasannya sederhana: karena tahu Tokyo :D yang suka ada di majalah.  Saya saat itu juga ragu dengan Tohoku University yang konon letaknya sangat asing di peta (menurut saya saat itu… dan saya sangat menyesal pernah mikir seperti itu haha).

Beberapa minggu kemudian, hasil wawancara keluar. Saya, yang sangat yakin bisa lulus, ternyata tidak ada namanya di pengumuman tersebut. Saya tidak lolos. Saat itu saya merasa sangat sedih, karena bagi saya exchange adalah satu-satunya cara untuk bisa pergi ke Jepang. Lebih sakit lagi, karena ternyata ada kemungkinan saya bisa lolos jika saya melamar program JYPE karena bidang saya lebih cocok di Tohoku University. Sakitnya tuh… di sini… *nunjuk jantung :’(.

Namun, yang berlalu biarlah berlalu. Saya akhirnya fokus menyelesaikan sekolah saya. Tentu saja evaluasi diri dan usaha terus dilakukan untuk memperoleh kesempatan ke Jepang. Mulai dari bertanya-tanya ke beberapa tempat kursus Jepang, browsing dari web A ke Z, dan lain-lain. Tapi hasilnya tetap nihil.

Mulai sedih campur putus asa, saya akhirnya lebih mengikhlaskan keinginan saya untuk sekolah di Jepang. Mengikhlaskan artinya bukan berhenti berusaha, tapi lebih ke ‘ngga ngoyo – tidak memaksakan diri’, menikmati proses dan menghargai diri sendiri. Menghargai diri sendiri, seperti tidak terus menyalahkan diri sendiri karena kemampuan yang pas-pasan, tapi lebih ke ‘pergi nanti lebih baik dari pada pergi dalam jangka waktu dekat.’ Positive thinking pada diri sendiri dan Tuhan :D

Dan keajaiban satu per satu mulai muncul di sini.

Tak terasa sudah tahun ke empat. Setelah saya selesai melakukan tugas kampus, saya terkejut dengan ucapan dosen saya. Beliau menawarkan saya untuk lanjut sekolah di Kanazawa University. Kanazawa University terletak di Ishikawa-ken, Jepang. Posisinya hampir bersebrangan dengan Korea. Belajar dari pengalaman, saya akhirnya mencoba mendaftar ke Kanazawa University TANPA memikirkan letak geografisnya di Jepang. (Masih ingat kan? Saya tidak jadi ke Tohoku karena memikirkan posisi geografisnya -_-). Saat itu proses seleksinya berupa ujian tertulis dan wawancara. Inilah hoki pertama saya : saya lolos seleksi plus mendapatkan beasiswa JASSO. Makasih ya, Tuhan ! :,)

Saya sendiri sangat senang dan bingung karena kesempatan datang. Inikah yang namanya takdir ? Katanya sih begitu. Tapi, yang ingin saya tekankan adalah pengalaman gagal saya sangat berpengaruh. Saat seleksi, saya lebih lapang dan menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Tidak ada keyakinan berlebihan seperti yang pernah saya lakukan di kesempatan exchange sebelumnya. Alhamdulillah, saya juga menjadi lebih tenang mengikuti proses seleksinya. Tidak seperti sebelumnya, yang terkesan menggebu-gebu saking semangatnya. Yap, ada yang namanya proses BELAJAR.

Sebelum pengalaman gagal Sesudah pengalaman gagal
  • Merasa percaya diri berlebihan, semua persiapan terlihat siap, padahal kita tidak pernah tahu parameter siap.
  • selalu deg-degan di setiap proses karena khawatir gagal.
  • Ngga fokus dengan tugas yang harus dilakukan karena kepikiran hasil seleksi.
  • Mengerjakan setiap prosedur selengkap mungkin dan serapi mungkin TANPA berpikir bahwa sudah cukup perfect. Ikhtiar dulu aja deh..
  • Lepaskan sajaaa.. terserah deh keterima atau ngga. Seginilah usaha gue. Jadi, sekarang kumaha Gusti Alloh saja (read: gimana Tuhan saja)
  • Setelah semua prosedur beres (tinggal nunggu pengumuman), hati lebih tenang dan fokus pada yang harus dikerjakan selanjutnya. Ciyus loh !
  • Jadi lebih dekat dengan Tuhan *angelmode

Singkat cerita, pengalaman saya sekolah di Kanazawa University membuat saya tertarik untuk meneruskan sekolah di Jepang. Mengapa Jepang lagi ? Saya harus jujur mengatakan ini :

Budaya belajar di Jepang sangatlah cocok untuk orang seperti saya (yang cenderung pemalas). Mereka mendidik mahasiswanya untuk teliti, sistematis, disiplin, dan respect. Banyak juga yang mengatakan bahwa mereka bekerja keras dan semangatnya bisa menular pada orang sekitarnya, termasuk saya. Itu lah alasan saya memilih Jepang lagi sebagai tempat menuntut ilmu. Sayangnya, pembimbing saya di Kanazawa akan pensiun dan artinya saya harus mencari pembimbing lain. Terbayang sudah pengalaman saya googling ngga jelas di masa lalu untuk mencari kesempatan exchange. Sepertinya harus begitu lagi … pikir saya. Awalnya saya mencari calon beasiswa dan sekolah terlebih dahulu untuk pendidikan S3 saya. Semakin browsing, semakin random. Setelah beberapa kali garuk-garuk kepala, saya mulai berpikir untuk melakukan strategi lain.

Mendadak saya teringat kata-kata ayah saya : Jika kamu sudah melakukan hal yang menurut kamu benar, namun hasilnya belum baik, berarti HANYA strategi kamu saja lah yang salah. Banting setir, ganti cara. Not only work hard, but work smart!

Ting ! Bohlam dalam kepala saya akhirnya menyala. Saya mulai ambil secarik kertas kosong dan menjabarkan kelebihan dan kekurangan saya. Kelemahan saya dalam hal ini adalah kemampuan otak saya yang pas-pasan membuat saya tidak mungkin bersaing dengan mereka yang pintar dan jenius (seperti proses seleksi beasiswa Monbusho G to G).  Kalau begitu, saya harus ganti cara; saya harus mencari Profesor nya terlebih dahulu, karena mungkin saja Profesornya punya uang. Eh…. Maksudnya profesornya punya link beasiswa :D. Saya akhirnya mencoba directly mengirim email ke beberapa Profesor yang menjadi calon professor saya. Bagaimanakah hasilnya??? Ternyata Tuhan masih belum mengijinkan. Saya ganti strategi lagi. Kali ini, saya mencari calon professor bukan random dari website, tapi dari kenalan di kampus. Sebelum saya menanyakan hal tersebut, beliau sudah menelepon saya dan menyatakan bahwa sedang memiliki kerjasama dengan Profesor di Jepang. Beliau meminta saya menjadi Liaison Officer (LO) ketika tamunya datang nanti. Oyeah! Saya langsung siap menerima tugas tersebut. Tentu saja bukan karena random, tapi karena ada feeling bahwa ini bisa menjadi opportunity.

Perlu saya share di sini, tidak semua opportunity mengarah pada apa yang kita inginkan baik. Ada baiknya kita punya pertimbangan apakah jalan ini akan mengarah pada tujuan kita, atau malah menjauhi tujuan awal. Namun ini hanyalah pendapat pribadi saya (berdasarkan pengalaman). Banyak  sekali rule tidak tertulis yang bisa kita ikuti dan bukan berarti menyalahi prosedur. Jalan yang tidak umum pantas untuk dicoba karena setiap orang punya kelebihan yang berbeda. IMHO  :D

Okey, mari lanjut… Inilah kata beliau, “Oh iya, saya tiga hari sempat berada di universitas tersebut dan sempat menceritakan Anda. Sepertinya dia tertarik dengan penelitian Anda. Apakah Anda mau lanjut di sana?”

“Dimana, Pak?” tanya saya tak sabar.

“Hmmm… ohya, Tohoku University.”

Jegerrr.. Ujung-ujungnya Tohoku University. Memori yang lalu langsung terbuka semua namun sekarang beda dong. Mantap tanpa berpikir panjang…

“Saya MAU Pak !”

(jangan ditiru ya. Setiap pilihan harus DIPERTIMBANGKAN MASAK-MASAK SAMPE MATENG ^^)

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan kemeja rapi merah muda, calon professor saya datang ke konferens yang diadakan oleh Fakultas saya. Langsung saya sambut dan mulai ngobrol-ngobrol. Tentu saja PDKT nya tidak langsung ke masalah sekolah, namun harus kenalan dulu dong. Dimulai dari ngobrol mengenai keseharian penduduk Sendai (kota letak Tohoku University), mengenai budaya Jepang, dan akhirnya beliau menanyakan Master Tesis saya, yes! Setelah dua jam ngobrol-ngobrol, beliau menawarkan saya untuk mengikuti proses beasiswa Monbusho.

Huft.. Monbusho … -_-

Dengan pesimis, saya mengikutinya dan alhasil (seperti yang sudah diduga) saya gagal total, bahkan dalam seleksi pertama. Saya sudah feeling sejak lama bahwa saya lemah jika harus ikut ajang kompetisi seperti ini. Namun, saya melihat peluang lain, dan jalur berbeda. Yaitu, beasiswa The Hitachi Scholarship Foundation (HSF).

Beasiswa HSF adalah beasiswa untuk negara-negara ASEAN. Bidangnya ada berbagai macam. Sayangnya beasiswa HSF ini hanya untuk faculty staff di beberapa institusi saja. Dalam batch saya, institusi di Indonesia yang bekerjasama dengan HSF sangat terbatas (hanya 4 universitas negeri saja). Jalur/ prosedur pendaftarannya pun tidak seperti biasanya. Pendaftaran dan pengumpulan dokumen harus dilakukan secara kolektif dari rektorat. Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini: http://www.hitachi-zaidan.net/global/scholarship/index.html

Jadi, jika ingin mendapatkannya, lot things to do!

Susah? Pastinya.

Ribet? Sebagai yang baru lulus S2, ya iyalah ribet !

Ga mungkin ? Hmm… ga ada yg bilang ngga mungkin sih.

So..? ….. Ayo …Iseng! *daripada eweuh gawe (read : daripada ga ngapa-ngapain)

Jadi saya benar-benar bertekad iseng mencobanya.

Pertama dalam benak saya, bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi faculty staff? Mohon diingat, saat itu saya baru saja lulus S2 dan modal saya 0 untuk pencarian jalan menuju Tohoku University.  Jadi, saya benar-benar tidak tahu harus ngapain hahahahaha. Yang saya lakukan adalah berusaha; berusaha bekerja, berusaha memperluas network, berusaha produktif, dan berdoa. Selain itu, banyak-banyak meyakinkan diri sendiri apakah niat kita ini tepat atau bukan. Percaya atau tidak percaya, keyakinan yang ada dalam diri kita (jika baik) mempengaruhi keberuntungan kita ;)

Tanpa mengurangi keyakinan saya akan pergi ke Tohoku, saya tetap bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan tidur zzz.

Suatu hari, di suatu meeting, salah satu dosen berucap, “ kamu tertarik untuk jadi dosen? CPNS sedang dibuka tuh.”

Renungan saya buyar. Banyak keraguan yang terlintas mengingat saya adalah anak baru di kampus. Bukan asisten pula, hanyalah pekerja panggilan -_-. Daripada asisten yang lain, saya termasuk kasta rendahan  :(

Namun, saya akhirnya iseng mengikuti proses tersebut. Tentunya dengan hati yang lapang dan malah cenderung tidak yakin karena minder dengan senior yang lain. Tapi, saya selalu ingat niat saya, keyakinan saya.

Mengapa ingin ke Tohoku University? Mengapa ingin S3? Saya tidak akan share keyakinan jawaban saya di sini (karena setiap orang punya pilihan sendiri :D ), namun jawaban dari pertanyaan tersebut yang membuat saya yakin untuk tetap maju. Bismillah. Tuhaaaan, temani aku ya!

Persiapannya pun tidak mudah, namun jika diceritakan di sini, saya bisa diban karena kepanjangan. Hehe.

Apa yang terjadi setelah saya ikut seleksi CPNS?

Alhamdulillah saya keterima untuk menjadi CPNS dan tentu saja saya sendiri merasa ajaib. Wew, merasa bingung sendiri, namun saya tidak punya waktu berlama-lama untuk bingung (helloooo , buat bingung aja ga ada waktunya :o ). Setelah keterima, saya mulai ke langkah selanjutnya untuk daftar beasiswa HSF. Dimulai dari mencari surat rekomendasi dari Home University Professor (dosen di kampus Indonesia) dan Host Professor (calon pembimbing di Tohoku University). Setelah itu melengkapi semua dokumen administrasi yang dibutuhkan dan dikumpulkan ke bagian Kepegawaian (ingat, beasiswa ini khusus untuk faculty staff ).  Dokumen akan diperiksa oleh panitia HSF dari  kampus Indonesia terlebih dahulu , kemudian dikirim ke kantor HSF di Tokyo, Jepang. Beberapa bulan kemudian, kami dapat kabar bahwa beberapa orang lolos seleksi administrasi dan diminta untuk mempersiapkan proses selanjutnya, yaitu wawancara. Saya sangat merekomendasi teman-teman untuk selalu wawancara dalam bahasa Inggris, karena jika dilakukan dengan bahasa Jepang, maka akan ada kemungkinan menjadi senjata makan tuan. Tapi kembali lagi, semua terserah teman-teman :D . Beberapa bulan kemudian, hasil seleksi keluar…. Dan hanya 3 orang INDONESIA, 1 orang Filipina dan 1 orang Thailand yang keterima dari universitas-universitas di ASEAN.

Setelah membaca hasilnya…

Shock.

Bingung.

Tersungkur dan menangis hebat di tengah ruang tamu. Ayah saya yang sedang di kebun, Ibu yang sedang di lantai atas langsung datang mendekati saya.

Mereka tampak bingung, dan spontan bilang , “ Udah ya, ngga apa… mungkin jalannya bukan sekarang. Ga papa ya, kita coba lagi tahun depan…”

Sambil terisak, saya bilang,”Bu, Pah, aku keterima.. hix”

“Hah?” kata mereka serentak.

“Iyaaaaa aku keterimaaaaa huhuhuhuhuhuhuhu.”

“Hahh kok bisaaaaaa?”

Ya ampun, orangtua saya saja tidak percaya saya keterima, apalagi saya =_= Tapi setelah itu kami berjuta kali mengucap syukur Alhamdulillah. :D

Mendapat amanah ini (beasiswa ini) berarti juga diberikan kepercayaan oleh Tuhan. Jadi, selain senang, harus juga mempersiapkan mental karena pendidikan milyaran generasi muda bergantung pada yang mendapatkan kesempatan sekolah lebih tinggi. Saya pun berangkat ke Tohoku dan di sini lah saya, teman-teman. :D

 

HSF1

Setiap tahun ada 2 kali acara kumpul-kumpul grantee (bersama staf HSF), yaitu bulan Maret (Graduation Day) dan Agustus (atau September, Summer Trip).

 

Begitulah ceritanya. Kisah saya diceritakan atas request teman saya yang penasaran bagaimana saya mendapat beasiswa ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, informasi mengenai HSF bisa dilihat di http://www.hitachi-zaidan.net/global/scholarship/index.html.

Tapi, yang ingin saya share di sini adalah, jangan takut berbeda. Setiap orang punya jalan yang berbeda. Lebih peka lah untuk melihat peluang yang dapat mengoptimalkan potensi teman-teman, karena potensi setiap orang berbeda  :D

Mungkin saya hoki. Tapi di balik ke hokian itu saya tidak tidak ngapa-ngapain (walaupun usaha tetap Tuhan yang punya parameternya).  Tapi, saya mencoba mengenal potensi saya. Jika masih kesulitan, teman-teman bisa memulai mengenal potensi teman-teman dengan membuat mind map, SWOT, dll. Dan yang paling penting adalah MAU BELAJAR DAN BERUBAH (INTROSPEKSI DIRI). Hehehe..

Semoga berhasil !  :D

Selamat hunting your fabolous life !

Tria Putri

Mahasiswa S3 Tohoku University