Masalah umum mahasiswa perantau di Jepang

Perkenalkan saya Rizal Dwi Prayogo, mahasiswa master Computational Mathematics di Kanazawa University, penerima Beasiswa Unggulan BPKLN Kemdikbud. Sejak tiba di Jepang pada April 2012 dan merasakan berbagai rasa pengalaman di sini, saya ingin berbagi beberapa pengalaman menarik melalui tulisan ini. Pengalaman menyenangkan tentu saja banyak. Demikian pula pengalaman belajar (baca: masalah) sudah pasti ada.

Hikmahnya, saya bisa belajar mengatasi masalah tersebut, dan terlebih lagi, hasil pembelajaran saya juga bisa saya bagikan kepada sesama (calon) perantau di negeri Sakura ini, terutama sesama mahasiswa. Salah seorang senpai (senior) saya pernah bilang begini, “Carilah ‘masalah’ sebanyak-banyaknya supaya nanti kamu tahu penyelesaian dari berbagai masalah tersebut dan agar adik kelas kamu (siapapun yang bercita-cita melanjutkan sekolah ke luar negeri) punya referensi dari kamu untuk menyelesaikan masalah yang mungkin akan ia hadapi nanti.” Tentu saja konteks cari “masalah” di sini adalah berusaha terus mengeksplorasi hal-hal baru. Di sini saya akan uraikan hasil dari mencari-cari “masalah” tersebut.

1. Gegar budaya

Istilah kerennya sih culture shock. Masalah yang satu ini pasti selalu dirasakan oleh perantau manapun. Ya, karena kita mengalami proses peralihan dari zona lama kita ke zona yang baru. Dan seperti biasa, setiap terjadi peralihan zona, yang terjadi adalah berbagai bentuk penolakan-penolakan karena pada dasarnya kita tidak ingin kenyamanan kita terusik. Kita inginnya terus berada dalam kondisi steady-state (kesetimbangan).

Jangankan untuk merantau, bahkan ketika kita pindah dari lingkungan lama ke lingkungan baru pun (masih di dalam negeri), seperti pindah sekolah ataupun pindah tempat kerja, gegar budaya ini sebenarnya ada. Hanya saja, kita masih tetap berada pada kondisi semi steady-state. Ya, hanya kebiasaan-kebiasaan saja yang membutuhkan penyesuaian. Sedangkan jika kita merantau, banyak aspek yang harus disesuaikan dan dibuat menjadi nyaman dengan segera.

Namun, gegar budaya ini sebenarnya hanya terasa pada pertengahan bulan pertama saja. Ya, pertengahan, bukan awal kedatangan kita. Karena saat pertama kali kita menginjakkan kaki di tanah perantauan, yang ada hanyalah rangkaian euforia. Negeri yang sedang kita datangi selalu kita banding-bandingkan dengan Indonesia, dan seringkali ujung-ujungnya kita menyudutkan negeri kita sendiri dan memuji negeri utopia yang baru kita datangi.

Seiring dengan berjalannya waktu, euforia tersebut mulai tergeserkan dengan gegar budaya ini (culture bump). Banyak hal yang harus segera kita sesuaikan, mulai dari makanan, bahasa, lingkungan, termasuk juga “prosedur” membuang sampah berdasarkan jenis dan hari, bahkan sampai penyesuaian jam biologis yang baru. Termasuk pula bagaimana mempertahankan kebiasaan baik yang biasa dilakukan ketika di Indonesia.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Orang Jepang mengenal peribahasa semacam itu sebagai “Gou ni itte wa gou ni shitagae”. Sebagai perantau, kita adalah tamu dan harus menghargai tuan rumah, termasuk soal kebiasaan-kebiasaan mereka yang agak berseberangan dengan budaya Indonesia. Tentu saja, sebagai negara yang punya bahasa tersendiri, Jepang bukanlah pengguna bahasa Inggris yang sudah kita pelajari sedari SMP (bahkan SD). Jadi, kendala bahasa tentu saja hadir.

Orang Jepang kerap menggunakan bahasa lokal, sekalipun itu kepada orang asing, dan ini ternyata tidak hanya tentang bagaimana mereka bertutur saja, tapi juga secara tulisan pun mereka kerap menggunakan bahasa lokal. Misalnya, sebagai ryugakusei (mahasiswa internasional), tentu pihak daigaku (universitas) akan memberikan semacam living guide /buku panduan. Saya pernah diberi beberapa guide book dan brosur, setelah saya buka ternyata beberapa isinya (ada juga yang bilingual, Jpn-Eng) lebih banyak bertuliskan huruf-huruf Jepang (kanji) yang tidak bisa saya baca. Yah, akhirnya itu hanya menjadi sampah.

Belum lagi di kotak surat apato (apartemen) saya, kerap ada kiriman shinbun (koran), brosur-brosur promosi, dan semacamnya, yang keukeuh menggunakan bahasa Jepang. Alhasil, kertas-kertas itu hanya bisa saya gunakan sebagai kertas penyerap minyak goreng (mengingat di Jepang, wajan harus bersih dari minyak sebelum dicuci, terutama saat musim dingin). Ditambah lagi dengan tagihan gas dan listrik yang juga dalam bahasa Jepang komplet dengan huruf kanji. Tapi, tidak perlu bingung, lihat saja nominal tagihannya (hanya itu yang bisa dibaca secara wajar), setelah itu bayar, beres!

Culture bump ini juga berpengaruh bagi penganut agama tertentu, terutama muslim. Jepang bukan negara yang mayoritasnya beragama Islam, jadi kita yang muslim harus pandai-pandai mencari akal agar bagaimana syariat bisa tetap dijalankan. Misal ketika di toilet kering, bagaimana caranya supaya bisa ber-istinja dengan benar. Makan makanan yang halal, ini juga ada hubungannya dengan kemampuan bahasa Jepang kita. Soalnya, kita hanya bisa membaca dari komposisi makanan tersebut yang menggunakan bahasa lokal, seperti nyuukazai -乳化剤(emulsifier), ショートニング(shortening), 豚肉(daging babi), serta komposisi lainnya, yang harus dicek satu per satu.

Shalat juga menjadi sulit ketika kita berada di tempat-tempat umum, seperti sedang bepergian. Kalau di kampus ada mushola, tapi ketika di tempat umum, sulit mencari tempat untuk ruku dan sujud. Sebagai perantau, sudah beberapa kali saya bersama teman-teman sholat beratapkan langit, seperti di pinggir sungai, taman, tempat parkir, dan sudut-sudut ruangan. Bersyukurlah teman-teman di Indonesia yang setiap kali waktu sholat terdengar adzan, syukurilah nikmat itu dengan mendatangi tempat sholat dengan bergegas.

2. Academic talk vs. daily talk

Sebenarnya ini lagi-lagi terkait dengan bahasa. Ketika sekolah di Indonesia, kita hanya butuh memahami materinya saja, mengingat kuliah disampaikan dengan bahasa Indonesia. Sedangkan jika sekolah di luar negeri, kita harus melewati dua tahapan memahami, yaitu memahami apa yang dimaksudkan sensei, baru kemudian memahami materi kuliah itu sendiri. Kemampuan bahasa Inggris sensei (profesor) di sini juga bervariasi, ada yang fasih, dan tidak sedikit yang sering bercampur dengan nihongo (bahasa Jepang).

Ada satu kejadian unik, salah seorang sensei yang ketika mengajar menggunakan nihongo, tetapi beliau menulis dengan bahasa Inggris. Luar biasa kordinasi otak kanan dan kirinya! 8) Bahasa Inggris lebih sering digunakan ketika dalam forum zemi (seminar), jyugyou (kuliah), dan academic talk lainnya. Selama itu berada dalam lingkungan akademik (lab, kelas, seminar), bahasa Inggris biasa jadi pengantar.

Di luar kehidupan akademik, orang-orang Jepang hampir bisa dipastikan menggunakan bahasa lokal. Tidak peduli kepada orang asing sekalipun, nampak tidak ada rasa bersalah di muka-muka mereka saat orang asing kebingungan karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Itulah alasannya, sampai kini saya insya Allah masih bertahan untuk ikut kelas nihongo. It is very interesting to speak in their local language!

Kelas nihongo bisa dibilang hampir menyamai 10 sks, dari hari Senin sampai Jumat. Isogashii dakedo omoshiroii (sibuk tapi menyenangkan). Siapa tahu, nanti bakal ada takdir ke Jepang lagi di masa yang akan datang, jadi sudah harus nyicil kemampuan bahasa Jepang dari sekarang. Soalnya, tidak ada yang sia-sia dari proses menuntut ilmu, deshou? Siapa tahu ilmu apapun yang kita pelajari sekarang itu menjadi titik di hari ini, dan atas takdir Allah, titik-titik itu saling terhubung dengan kejadian di masa yang akan datang, deshou?

Karena jadwal kelas nihongo yang segitu penuhnya, saya jadi “lupa” bahwa saya juga harus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Yang saya pelajari setiap hari itu bahasa Jepang, sampai-sampai saya “lupa” baca-baca lagi grammar, TOEFL, dan semacamnya. Oya, ada satu cerita menarik lagi terkait bahasa. Mudah-mudahan ini tidak menjadi sugesti buruk. Setiap kali saya mengobrol dengan orang yang bahasa Inggrisnya kurang fasih (bahasa Inggris bukan bahasa pertamanya), saya pun ikut balelol (gagap) bahasa Inggrisnya. Atau mungkin dasarnya memang balelol kali ya? Hehe… :D Akan tetapi, sewaktu saya mengobrol dengan orang yang fasih (bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya), saya pun ikut lancar! Entah, apakah kasus saya ini pernah terjadi juga pada teman-teman? 0==(D)

Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa jika kita ingin berlatih conversation bahasa Inggris dengan lancar, carilah orang yang native berbahasa Inggris. Sudah benar strategi dari beberapa tempat kursus bahasa Inggris yang mendatangkan guru native, karena akan membantu latihan conversation. Kalau dengan orang yang bahasa Inggris bukan bahasa pertamanya, lidah kita tidak akan terkondisikan, seperti yang dirasakan di sini dengan kebanyakan orang Jepang.

3. Kehidupan akademik

Dari pengalaman saya, untuk jenjang sarjana, bolehlah kuliah di dalam negeri supaya kita punya banyak teman pergaulan dan cukup matang dalam bersosialisasi. Akan tetapi, kalau untuk lanjut master, bahkan sampai doktor, sebaiknya kita mengambil kuliah di luar negeri. Ada beberapa alasan yang mendasari.

Pertama, membuka wawasan. Sedari lahir kemudian sekolah hingga kuliah, saya menghabiskan sekitar 23 tahun hidup di Bandung. Saya merasa pikiran saya ini tertutup dan suntuk berlama-lama berada di lingkungan yang homogen. Saya telah terbuai oleh zona nyaman saya sendiri dan saya merasa lama-lama kondisi seperti ini akan mengikis semangat daya juang saya. Maka, saya beranikan diri untuk keluar dari zona nyaman saya ini.

Banyak orang yang hanya hidup di Indonesia, bahkan hanya di satu daerah seperti saya, sulit membuka pikiran dan wawasannya terhadap apa yang terjadi di dunia luar. Ibarat sulit untuk membayangkan apa yang terjadi di luar kotak. Dunia serasa sempit. Tinggal beberapa bulan atau tahun di luar negeri tentu saja berbeda dengan liburan singkat. Liburan singkat hanya merasakan fase euforianya saja, sedangkan fase pembelajarannya (baca: masalah) belum sempat dirasakan. Dengan masuk ke fase pembelajaran tersebut, kita akan mendapat banyak pengalaman.

Kedua, infrastruktur pendidikan. Perlu diakui infrastruktur pendidikan di negara-negara maju masih lebih mumpuni ketimbang di dalam negeri. Kalau untuk sarjana memang tidak menjadi masalah, tetapi untuk tingkat pascasarjana yang notabene kejarannya adalah riset dan publikasi, kita membutuhkan infrastuktur yang lebih mumpuni. Fasilitas penunjang seperti perpustakaan dan laboratorium juga ikut membantu.

Sebagai contoh pentingnya infrastruktur, standar komputer di bidang saya (Computational Mathematics), dengan riset di bidang Smoothed Particle Hydrodynamics (SPH), dibutuhkan kemampuan komputer yang sangat tinggi (high performance computing) karena kerjaannya berkaitan dengan simulasi. Sedangkan di Indonesia, paling banter hanya Dual Core saja. Di sini setiap mahasiswa master dan doktor memiliki meja kerjanya masing-masing, dilengkapi dengan komputer dan diberi ruangan. Di Indonesia, fasilitas seperti ini sifatnya masih keroyokan, digunakan secara massal. Pustaka juga menjadi hal yang esensial, terutama pustaka internasional. Internet menjadi fasilitas yang sangat membantu. Namun di balik kemudahan infrastruktur di luar negeri, tentu saja ketika kita pulang nantinya kita pun diharapkan menjadi agen perbaikan bagi kualitas pendidikan di Indonesia.

Ketiga, melatih inisiatif dan kemandirian. Pendidikan di luar negeri memang secara tidak langsung menuntut kita untuk bisa mandiri. Jangan menunggu untuk disuapi terus, inisiatif kita sangat diperlukan. Maklum, kita berada dalam lingkungan orang-orang yang “beda”, dan mungkin juga topik kajiannya berbeda, jadi mau tidak mau: penelitian, belajar, mengerti, dan seterusnya, harus bisa kita lakukan sendiri.

Kalau di Indonesia, kita mungkin merasa tenang-tenang saja karena merasa kita bisa bertanya pada teman kita. Dan karena begitu, kita jadi terus mengandalkan teman kita itu. Satu hal yang perlu diingat, percaya sama teman itu boleh, tapi jangan mengandalkan! Karena suatu saat kita tidak bisa lagi meminta bantuannya. Berinisiatif sendiri dan mencoba mandiri memang perlu dilatih. Jangan sampai karena keadaan yang memaksa kita untuk berbuat.

Keempat, fokus. Ya, menempuh studi master atau doktor harus bisa fokus. Kondisi di luar negeri yang jauh dari keluarga dan mengingat finansial kita juga sudah dijamin oleh beasiswa, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak fokus. Kita tidak perlu membagi waktu kerja dan kuliah, waktu mengajar dan les privat, dan semacamnya. Status kita hanyalah “college student” yang tertera di visa. Jadi, sebenarnya itu pulalah tujuan kita merantau.

Teman berdiskusi pun banyak. Maklum, sebagai sesama mahasiswa perantau, biasanya ada rasa senasib-sepenanggungan yang membuat kita sama-sama mengerti kondisi satu sama lain. Jadi, kalau ada apa-apa, bisa saling menguatkan untuk bisa kembali fokus pada tujuan studi.

Saya menerapkan prinsip Never Let Zero Progress, yaitu jangan pernah membiarkan satu hari pun terlewat tanpa asupan pengetahuan. Terserah belajar apapun, yang penting setiap hari harus ada kemajuan. Entah itu mengerjakan tugas kuliah, belajar materi, riset, atau sekadar menghapal kosakata nihongo. Kuncinya jangan menunda, sekali terlewat akan berat (gangguan malasnya lebih besar) untuk mengejar.

4. Kehidupan sehari-hari

Tentunya, kebiasaan-kebiasaan di sini berbeda dengan di Indonesia. Itu tandanya, kita harus bisa menyesuaikan. Hal yang paling kentara adalah waktu sholat, terutama sholat Magrib, Isya, dan Shubuh. Di sini, pada musim semi menuju musim panas, waktu sholat Shubuh bisa mulai dari jam 02.45 dan terbit matahari jam 04.45. Itu artinya segala aktivitas harus sudah dimulai setelah itu! Sedangkan Isya sekitar jam 20.45, jadi bisa dibilang malam di Jepang sangat pendek dan siangnya menjadi lebih panjang. Musim dingin memang kebalikannya tapi durasinya tidak terlalu lama. Mungkin itu sebabnya Jepang bisa lebih cepat menjadi negara maju karena waktu produktifnya lebih banyak.

Mau tidak mau, jam biologis kita ikut berubah drastis. Perbedaan waktu ini terasa begitu kita masuk bulan Ramadan pada musim panas, karena puasa di Jepang pada musim panas lebih dari 14 jam tidak seperti di Indonesia. Tapi, kalender Hijriyah berbeda perhitungan dengan kalender Masehi, sehingga bulan Ramadan bisa maju di saat musim dingin. Syukurnya, waktu siang lebih pendek jadi waktu berpuasa tidak mencapai 12 jam. Allah Maha Adil, dengan kondisi puasa di musim dingin dan siang yang lebih pendek, ternyata tidak mudah juga karena kita lebih cepat lapar.

Biasanya pagi-pagi saya belajar nihongo, setiap pagi diawali kelas nihongo dulu baru kemudian kuliah dan riset. Tapi, menariknya, sebagian besar kuliah itu tidak ada ujian! Yang ada cuma tugas dan laporan akhir. Apa benar sistem ujian itu malah tidak bagus?

Setiap ada tugas kuliah, saya coba selesaikan di lab. Dan saya biasa nge-lab sampai malam, baru kemudian pulang. Atau kalau bosan di lab, pergi ke perpustakaan. Dengan begitu justru lebih nyaman, bereskan dulu tugas yang agak berat di kampus, begitu pulang ke apato tinggal santai. Bisa baca-baca, nulis, browsing, streaming, dan semacamnya. Kalau membawa “urusan” kampus ke apato bakal banyak gangguannya. Tentu kita ga cuma belajar aja kan … Setiap weekend biasanya saya jalan-jalan dan futsal lawan orang-orang Vietnam di taikukan (gymnasium).

Awal datang ke Jepang memang selalu mengkonversikan harga. Harga berapa yen selalu dikonversikan ke rupiah. Jadinya, setiap barang pasti kerasa mahal dan akhirnya tidak jadi beli. Mau belanja juga sangat perhitungan karena dikonversikan ke rupiah. Tapi, lama-kelamaan sudah mulai terbiasa. Memang harganya segitu, kalau dikonversikan terus yang ada malah gak akan belanja-belanja dan makan. Akhirnya, yang mau dibeli, dibeli saja. Tidak usah terlalu perhitungan kalau memang butuh.

Jangan lupa juga, mumpung lagi di negeri orang, manfaatkan setiap kesempatan yang ada. Jangan terlalu perhitungan dengan uang sehingga melewatkan kesempatan jalan-jalan. Jangan terlalu sibuk dengan tugas-tugas, sehingga melewatkan kumpul dengan teman-teman. Jangan menutup diri sehingga melewatkan acara yang cuma ada di Jepang. Manfaatkan waktu untuk hal-hal di luar kuliah. Make friends everywhere, jalin pertemanan lewat media organisasi dan olahraga. Mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan sebaik-baiknya.

5. Homesick

Bagian ini yang membuat kita rentan terhadap gejala galau. Jauh dari keluarga dan zona nyaman membuat kita rindu untuk pulang, kangen keluarga, dan suasana rumah. Sebenarnya fase homesick ini cuma saya rasakan di minggu terakhir bulan pertama sejak kedatangan. Soalnya pada fase tersebut, fase euforia baru saja lewat dan kita berada dalam masa transisi dan penyesuaian. Alhamdulillah setelah itu, saya merasa biasa-biasa saja.

Homesick ini wajar, tapi janganlah kekanak-kanakan. Ingat tujuan awal kita ingin merantau dan syukuri nikmat karena telah diberi kesempatan menuntut ilmu ke negeri orang. Justru kalau saya sekarang diberi pilihan: Kalau diberi liburan, ingin jalan-jalan di Jepang atau pulang ke Indonesia? Saya akan memilih jalan-jalan. Ya, mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan untuk menjelajah.

Untuk mengobati kerinduan, saya biasa skype-an dengan keluarga, terutama orang tua yang selalu menanyakan kabar via email. Untunglah teknologi masa kini bisa lumayan mengobati homesick dengan tetap menjalin komunikasi bersama keluarga di Indonesia. Bergaulah selalu dengan teman-teman yang punya pemikiran yang positif sehingga kita akan ikut terbawa optimis. Saat homesick melanda, teman-teman kita yang akan saling menguatkan dan menghibur. Konon, gejala homesick ini akan berubah menjadi homeshock saat kita kembali ke tanah air kita Indonesia. :roll:

Penutup

Sekian dulu cerita saya seputar masalah-masalah umum perantau yang saya hadapi di negeri matahari terbit ini. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, kuncinya adalah doa, tetap fokus, konsisten, dan disiplin. Fokus pada tujuan (niat) awal kita merantau, dan jalani dengan sabar. Sabar dalam menapaki jalan yang telah dimulai. Konon, starting point, startup, memulai, adalah bagian yang paling berat dari berproses. Akan tetapi, saya berpikir bagian yang terberat justru konsisten dalam menjalani apa yang sudah kita mulai, yaitu bagaimana kita membuat satu proses itu tetap berkesinambungan. Dan terakhir, disiplin. Disiplin dengan apa yang sudah kita rencanakan dan targetkan sendiri.

Ganbareba dekiru!

Salam merantau …

Penulis: Rizal Dwi Prayogo
Mahasiswa S2 Computational Mathematics di Kanazawa University, Jepang.
Penerima Beasiswa Unggulan BPKLN Kemdikbud
Tulisan-tulisannya tentang berbagai hal, terutama seputar kehidupan sehari-hari dapat ditemukan di blognya: http://rizaldp.wordpress.com/