Mimpi di bawah rindangnya kampus pertanian

Perkenalkan, nama saya Riskina Juwita. Perjalanan saya di Jepang dimulai pada bulan April 2009, setelah perburuan panjang mencari informasi program beasiswa U to U antara Tokyo University of Agriculture dan IPB. Perburuan dimulai ketika saya kembali ke bangku kelas XII SMA Negeri 1 Bogor setelah mengikuti program pertukaran AFS di negeri Paman Sam. Program pertukaran selama 1 tahun itu sudah memberi “magnet” yang luar biasa yang terus menerus menantang saya untuk kembali melanglang buana ke berbagai belahan dunia, tentunya dengan beasiswa. 8)

Pada suatu siang di SMANSA, saya bertemu dengan sahabat yang juga teman sekelas saya di kelas XI, yang saat itu sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Jepang. Tak pikir panjang, saya pun langsung meminta ia menjelaskan program yang ia ikuti dan segala persyaratan yang dibutuhkan, dan dari obrolan jam makan siang itulah saya mengenal program ini.

Program beasiswa ini adalah program beasiswa U to U antara IPB dengan Tokyo University of Agriculture (TUA) atau yang biasanya dikenal dengan sebutan Tokyo Nodai (singkatan dari Toukyou Nougyou Daigaku). Program ini adalah program S1 yang sepenuhnya dibiayai oleh Tokyo Nodai, di mana setiap tahunnya di bawah program yang diberi nama Special Foreign Student Scholarship (特別留学生-tokubetsu ryuugakusei), Nodai menerima 1-2 orang mahasiswa asing dari berbagai sister-university mereka di negara berkembang, seperti Indonesia, Filipina, Thailand, Mongolia, Brazil, Peru, Meksiko, dan Ukraina.

Untuk Indonesia, sister-university Nodai dalam program ini adalah IPB. Biasanya setiap tahun IPB melakukan seleksi dan kemudian mengirimkan 2 orang mahasiswanya yang terpilih untuk menyelesaikan program S1 di sini. Tingkat berapa pun mahasiswa yang terpilih, nantinya akan memulai kembali dari awal semester 1. Namun SKS yang sudah didapat di IPB bisa ditransfer sehingga dapat membantu mengurangi jumlah SKS yang diperlukan untuk kelulusan di sini.

Tokyo Nodai sendiri adalah salah satu kampus Pertanian tertua yang ada di Jepang, berdiri sejak tahun 1891 dan memiliki kampus di 3 lokasi, yaitu Setagaya Campus, Tokyo; Atsugi Campus, Kanagawa; dan Okhotsk Campus, Hokkaido. Nantinya, mahasiswa asing yang datang melalui program ini akan masuk ke dalam Departemen International Bio-Business Studies, Fakultas International Agriculture and Food Studies. Departemen ini terdapat di Setagaya Campus, di daerah Setagaya-ku, Tokyo. Selengkapnya : http://www.nodai.ac.jp/english/

Seperti yang saya sebutkan di atas, beasiswa ini adalah beasiswa penuh. Selama 4 tahun menjalani perkuliahan tidak dikenakan biaya dan mendapat tempat tinggal gratis lengkap dengan pemakaian air/listrik di asrama kampus yang letaknya di seberang kampus langsung. Untuk biaya hidup sehari-hari, kampus memberikan beasiswa sebesar 45,000yen setiap bulannya. Mengingat biaya hidup Tokyo yang tinggi dan lokasi Setagaya yang terkenal dengan sebutan “lokasi mahal”, pihak kampus juga memberi bantuan tambahan melalui peluang untuk baito (dari kata アルバイト-arubaito yang berarti kerja sampingan/part-time job) sebagai cleaning service kampus yang bertugas membersihan gedung-gedung/lingkungan kampus setiap Senin-Jumat pukul 07:00-08:30 dan hari Sabtu jam 08:00-10:00. Biasanya mahasiswa asing juga mencari kerja sampingan lainnya di luar kampus sebagai tambahan.

Kelas Bahasa Jepang Tingkat 1, bersama Pohon Permohonan Tanabata.

Yang menantang dari program ini adalah bahasa pengantarnya. Semua perkuliahan diberikan dalam Bahasa Jepang, kecuali mata kuliah dalam Elective English Course. Tidak seperti beasiswa Monbukagakusho, yang biasanya penerima beasiswa D2/D3/S1 mendapat kesempatan Sekolah Bahasa Jepang intensif selama 1 tahun, mahasiswa asing dalam program ini diwajibkan untuk mengambil mata kuliah/kelas Bahasa Jepang selama tingkat 1, yang jadwalnya adalah seminggu 3 kali dari jam 09:00-12:10.

Tantangan terberat adalah, dengan Bahasa Jepang yang baru mulai dari nol, di semester yang sama juga harus mengambil mata kuliah wajib departemen yang hampir semuanya menggunakan Bahasa Jepang. Untungnya, departemen memiliki kebijakan di mana mahasiswa asing “seringkali” diperbolehkan menggunakan Bahasa Inggris pada saat ujian, mengerjakan laporan, presentasi di lab, atau penulisan skripsi. Tetapi, semua itu bergantung pada kebijakan masing-masing Sensei.

Setelah menjelaskan program ini, sahabat saya berpesan supaya saya menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan sedini mungkin. Berhubung formulir pendaftaran dikirim langsung dari Jepang, seringkali terjadi kendala teknis di mana proses pendaftaran dilakukan dalam waktu singkat dan karena waktu yang singkat tersebut seringkali saat seleksi diutamakan mereka yang mampu melengkapi dokumen lebih cepat.

Berbekal cerita di atas dengan segala peluang dan tantangannya, saya yang saat itu sedang bimbang untuk memilih universitas, akhirnya memantapkan hati untuk mendaftar USMI IPB, dengan cita-cita setelah saya masuk IPB saya ingin mengejar beasiswa ini. Hingga pada akhirnya pengumuman PMDK keluar, Alhamdulillah saya diterima di jurusan yang saya sukai, yaitu Teknologi Industri Pertanian (TIN). Dengan hasil ini, saya pun tidak mendaftar ke universitas lain lagi dan memilih fokus dengan perburuan beasiswa ini sambil juga mempersiapkan rencana kedua (Plan B). Waktu yang ada sejak selesai UN hingga masa matrikulasi bagi penerima PMDK, saya manfaatkan untuk memulai sedikit demi sedikit les Bahasa Jepang dan menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, seperti rapor dari kelas X, Surat Tanda Kelulusan, Ijazah, sertifikat prestasi, dan sertifikat organisasi. Walaupun masih belum tahu apakah bisa atau tidak, saya pikir investasi ilmu Bahasa Jepang tidak ada ruginya, dan dokumen ini pun bisa digunakan untuk kesempatan yang lain. Saat itu saya sempat mencoba mendaftar Beasiswa Singapore, namun hanya sampai seleksi berkas dan gagal di tes tertulis.

Setelah masuk ke IPB, saya kembali melanjutkan perburuan selama masa semester 1 TPB. Hampir setiap hari saya bolak-balik “mengganggu” staf Rektorat dengan pertanyaan yang sama mengenai formulir program ini, namun hasilnya selalu nihil dengan jawaban bahwa formulirnya tidak ada. Di tengah ketidak-pastian tentang program ini, saya mencoba mendaftar beasiswa Monbukagakusho, sayangnya lagi-lagi hanya lolos sampai seleksi berkas dan gagal saat tes tertulis. Hingga pada suatu sore saat sedang mengikuti kumpul organisasi IAAS di koridor Faperta IPB, saya menerima telepon yang meminta saya segera datang ke Rektorat. Dan ternyata, hari itu adalah jawaban dari perburuan saya untuk program ini. Sore itu saya diberikan formulir asli pendaftaran program ini. Saya pun kaget tetapi juga senang, walaupun “membuat orang sebal” ternyata kunjungan saya setiap hari ke Rektorat membuahkan hasil, minimal orang Rektorat masih mengingat saya. :D

Sesampainya saya di Rektorat, ternyata cerita sahabat saya itu benar adanya. Dikarenakan permasalahan teknis, formulir itu sempat “hilang” di tengah jalan dan datang justru 1 hari sebelum deadline, lebih tepatnya 12 jam menuju deadline. Sore itu sudah pukul 18:00, dan saya “ditantang” untuk dapat melengkapi formulir itu dan semua dokumennya dengan deadline-nya adalah pukul 08:00 JST keesokan harinya, atau pukul 06:00 WIB.

Pada saat itulah saya mengerti satu hal, niat tanpa persiapan adalah nihil adanya. Saya merasa bersyukur mendengarkan cerita sahabat saya dan sudah menyiapkan semua dokumen yang juga sudah saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris serta dilegalisasi. Sore itu saya langsung menghubungi kakak saya dan minta tolong mengantarkan semua dokumen segera ke Gedung Rektorat IPB. Hari itu sampai pukul 11:00 malam saya nongkrong di kampus menyelesaikan semua formulir yang harus ditulis tangan dalam Bahasa Inggris, serta bersama mahasiswa lain yang juga mendaftar program ini menunggu giliran wawancara langsung dalam bahasa Inggris oleh pihak Ditmawa IPB sebagai proses seleksi dan pemberian rekomendasi dari pihak IPB.

Formulir pendaftaran tak jauh berbeda dari formulir beasiswa kebanyakan, seperti data diri, riwayat pendidikan, dan motivasi keberangkatan. Lalu untuk wawancara sendiri, saya diminta untuk menjelaskan tentang diri saya, kelebihan dan kekurangan, prestasi yang pernah diraih, pengalaman organisasi yang dimiliki, serta alasan mengapa IPB merasa perlu merekomendasikan saya. Setelah selesai, malam itu juga semua dokumen saya di-scan dan dikirim via email ke pihak Nodai dan pada pagi harinya dokumen asli dikirim via express international mail ke Jepang. Selanjutnya saya hanya menunggu sambil berdoa, I did my best and let Allah SWT does the rest.

Berselang satu bulan, jawaban penantian saya akhirnya datang. Nodai mengirimkan saya Admission Letter (surat penerimaan) yang kemudian disusul dengan Certificate of Eligibility untuk pengurusan visa. Saat itu sudah di penghujung tahun 2008, dan hampir menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) semester 1 bagi saya. Pihak IPB memberikan syarat tambahan bagi kami yang terpilih diminta untuk menyerahkan transkrip nilai setelah UAS dengan syarat IP minimal 3,00 untuk pada akhirnya dinyatakan layak berangkat.

Alhamdulillah, selepas UAS saya dinyatakan layak berangkat. Hari-hari selanjutnya saya isi dengan segala persiapan keberangkatan, seperti pengurusan visa, pengurusan pindah dari IPB, melanjutkan les Bahasa Jepang, sampai kembali berlatih menari Bali untuk persiapan Foreign Student Welcome Party di Nodai nanti. Mahasiswa baru diminta untuk mempersiapkan pertunjukkan budaya dari masing-masing negara saat acara penyambutan tersebut.

Setelah semua persiapan itu, akhirnya pada 2 April 2009 saya mendarat di Narita dengan perasaan lega dan penuh syukur ditambah kegembiraan karena ternyata pihak kampus mengirim sahabat saya untuk menjemput di bandara.

Akhir kata, pada pagi yang cerah di musim gugur ini, beberapa bulan menuju penghujung tahun terakhir Pendidikan Sarjana saya, di tengah hari-hari yang banyak dihabiskan dengan mengutak-atik si tugas akhir di laptop entah di kamar, di cafe atau di lab saya Bio-Business Management and Analysis, saya hanya ingin berbagi kebahagiaan dan rasa syukur yang masih saya rasakan hingga saat ini melalui sebuah tulisan. Sampai saat ini saya masih percaya dengan sebuah prinsip “when you dare to dream, you gotta dare to try“. Ya, ketika kita berani bermimpi, beranilah mencoba menggapainya. Berani untuk menjadikan mimpi bukan cuma sekedar mimpi tapi menjadi sebuah semangat buat mewujudkan itu semua. Selamat bermimpi, dan tentunya selamat mencoba.

Bertemunya persiapan dan kesempatan membuahkan hasil yang kita sebut keberuntungan.
-Anthony Robbins.

Salam hangat dari Asrama Putri “Wakakusa”,
Riskina Juwita
Sekretaris Umum PPI Jepang 2010-2011
Kajian Strategis PPI Jepang 2012-2013