Nekad ke Jepang walau hanya gratis asrama

Tulisan ini adalah seputar kenekadan saya mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang yang hanya menanggung biaya asrama tanpa bantuan biaya hidup sehari-hari. Beasiswa yang saya terima adalah Rikkyo University International Dormitory Scholarship. Beasiswa ini diberikan oleh Universitas Rikkyo, Jepang, kepada mahasiswa UNPAD setiap tahunnya. Untuk bisa mendapatkan beasiswa ini, harus melalui seleksi terlebih dahulu.

Seleksi dimulai sekitar bulan Januari. Saat itu saya sedang izin dari KKN dan lagi berada di Bandung. Saya sebenarnya tidak tahu menahu soal beasiswa ini sama sekali sampai jam 2 malam hingga salah satu teman saya menginformasikan tentangnya. Ia mengajak saya untuk ikutan seleksi beasiswa ini.

Setiap tahun hanya ada dua orang beruntung dari UNPAD (yang berarti dari Indonesia karena Rikkyo hanya kerjasama dengan UNPAD di Indonesia) yang berangkat ke sana untuk belajar di Universitas Rikkyo. beasiswanya ada dua macam. Peringkat pertama seleksi dapat JASSO scholarship, artinya selain biaya kuliah gratis, ia juga dapat biaya hidup per bulan sebesar 80rb yen, tapi tidak dapat asrama. Sementara itu, peringkat kedua seleksi dapat RUID Scholarship, yang saya dapat. Artinya saya dapat gratis biaya kuliah dan kamar asrama selama setahun, tapi kebalikannya dengan yang pertama tidak dapat biaya hidup.

Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar dan memaksa teman saya ke Bandung untuk sesegera mungkin mengurus beasiswa ini, saya memutuskan untuk ikut mendaftar juga. Bagi saya, tidak ada salahnya mencoba, karena sebelumnya saya sudah lumayan sering mendaftar beasiswa ke luar negeri (yang semuanya ditolak) jadi saya cukup mengerti urusan berkas, essai, dan lainnya. Berikut ini cerita lengkapnya.

1. Seleksi Berkas

Proses mengurus berkas saya jalankan secepat kilat, karena saya harus sesegera mungkin kembali ke tempat KKN. Hanya dalam waktu 4 hari, semua berkas terkumpul dan saya bisa kembali ke tempat KKN dengan selamat. Sayang sekali, teman yang awalnya mengajak saya justru memutuskan untuk batal ikut saat dia menyadari IPKnya tidak memenuhi syarat. Padahal saya sudah membujuk dia untuk tetap ikut karena belum tentu IPK adalah syarat utama, tapi dia tetap menolak. Ya sudah, akhirnya saya sendiri yang ikut bertarung tanpa teman yang saya kenal.

Setelah mengumpulkan berkas, saya lama tidak mendapat kabar. Saya sebetulnya sudah pasrah dan sudah menguatkan diri bila seandainya gagal. Sebelumnya sudah beberapa kali aplikasi beasiswa saya ditolak, dan saya sudah bertekad untuk menjadikan Rikkyo ini percobaan terakhir saya selama menempuh S1. Jika ini gagal, berarti saya harus fokus dengan skripsi. Karena lama tidak dihubungi oleh pihak penyeleksi, saya menyangka saya telah gagal. Sampai suatu ketika saya dapat sms yang menyatakan bahwa saya lulus seleksi berkas dan boleh melanjutkan ke tahap dua, yaitu focus group discussion. Saat itu sudah bulan Februari, yang berarti sudah sebulan lebih dari tanggal saya mengumpulkan berkas.

2. Seleksi Focus Group Discussion

saat seleksi focus group discussion, saya datang telat 15 menit. Cukup fatal memang. Alasannya malam sebelumnya, saya baru sampai bandung lewat jam 12 malam karena habis menjadi pembicara di #ISAMMU INTISARI MAGAZINE mewakili GNFI (proyek Good News from Indonesia di mana saya aktif terlibat). Awalnya, saya sempat tidak diperbolehkan mengikuti seleksi. Saat itu, saya pasrah dan berdoa memohon pada Allah untuk diizinkan setidaknya mengikuti seleksi kali ini, agar dapat diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. Ternyata, Allah mengabulkan doa saya, dan saya dibolehkan mengikuti seleksi FGD.

Seleksi FGD ini adalah yang pertama untuk saya, jadi saya masih kurang begitu mengerti akan seperti apa bentuknya. Karena itu, beberapa hari sebelumnya saya bertanya kepada teman saya yang lain yang pernah penerima beasiswa Djarum mengenai bentuk FGD. Dia bilang, FGD nantinya biasanya berupa pemecahan masalah dengan role play. Akan ada sekelompok orang duduk melingkar, diberikan peran beda-beda dan nantinya diberikan contoh masalah. Penilaiannya akan dilihat melalui bagaimana cara masing-masing memecahkan masalah.

Ternyata, FGD seleksi Rikkyo pun sama. Ada 4 orang dalam ruangan, dua orang diberikan peran mahasiswa Asia, sementara dua orang lainnya dapat peran mahasiswa Eropa. Situasinya adalah bagaimana menyatukan pendapat saat berada dalam kafe, karena mahasiswa Eropa dan orang Jepang suka minum, sementara mahasiswa Asianya tidak suka minum. Saya kebagian peran orang Eropa.

Seleksi berjalan seperti layaknya ngobrol biasa, karena menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan kami berempat malah jadi ngobrol ngalor ngidul sampai yang menyeleksi bingung. Saat seleksi selesai, saya pasrah, karena saya tidak bisa mengukur kemampuan saya sendiri waktu itu. Saya betul-betul tidak bisa menebak hasilnya, jadi saya pasrahkan saja.

Waktu berlalu selama kurang lebih 2 minggu, saya sudah hampir lupa soal seleksi ini sampai di pertengahan Maret, salah satu teman yang saya kenal dalam seleksi ini, sms saya memberitahukan dia lolos tahap FGD dan berhasil masuk ke tahap interview. Saya, yang belum dapat kabar apapun saat itu, merasa super lemas dan yakin kalau saya gagal di tahap FGD. Tapi ternyata beberapa menit kemudian saya dapat email dan telpon yang menyebutkan kalau saya lulus ke tahap interview I. Alhamdulillah.

3. Tahap Interview I

Demi menghindari kesalahan sebelumnya, kali ini saya berangkat pagi banget dari Bandung menuju Jatinangor. Akhirnya saya malah kepagian, sampai 2 jam sebelum saya diwawancara. Saat menunggu saya sempat ngobrol sama beberapa orang, yang jadi teman baru saya. Di tahap ini ternyata hanya tersisa 20 orang dari 100 orang yang dipanggil untuk FGD.

Saat diwawancara, saya memilih menggunakan bahasa Inggris karena bahasa Jepang saya masih level balita umur setahun. Alhamdulillah, karena terbiasa dengan bahasa Inggris (berkah ngajar jadi guru bahasa Inggris di bimbel Nurul Fikri), saya bisa melewati tahap ini dengan lancar, dan pulang dengan hati riang. Keesokan harinya, tepat tanggal 14 maret hari ulang tahun saya ke-20, saya dapat e-mail yang menyatakan kelulusan saya di tahap interview dan berhak melanjutkan ke tahap presentasi.

4. Tahap Presentasi

Kesalahan terfatal selama seleksi rikkyo saya lakukan saat tahap ini. kali ini saya telat satu setengah jam karena masalah sepele: salah lokasi. Karena selama ini lokasi seleksi dilangsungkan di kampus Unpad Jatinangor, saya jadi kurang hati – hati dan berasumsi bahwa seleksi presentasi ini pun dilakukan di lokasi yang sama. Saat saya telah menempuh perjalanan Bandung-Jatinangor selama 1,5 jam dan sudah sampai tempat biasanya, saya baru sadar kalau saya salah lokasi. Ternyata seleksi kali ini diadakan di UNPAD DIPATI UKUR, kampus saya sehari-hari! Saya tidak sadar dengan fakta ini padahal jelas ada di e-mail. Dengan panik saya hubungi ketua penyeleksi, menjelaskan soal kebodohan saya dan berjanji akan sesegera mungkin berangkat ke kampus Dipati Ukur. Untungnya ketua penyeleksi menerima dan menyuruh saya sesegera mungkin ke Dipati Ukur.

Satu setengah jam kemudian saya berhasil mencapai kampus Dipati Ukur dengan kondisi harap-harap cemas, takut tidak boleh mengikuti seleksi. Untungnya, saya masih dapat mengikuti seleksi. Seleksinya berupa presentasi dengan bahasa Inggris. Temanya adalah hal terpenting tentang Indonesia yang menurut kita pribadi, harus diketahui oleh orang asing. Topik yang menyenangkan, apalagi untuk saya yang terbiasa menyebarkan hal bagus soal Indonesia di GNFI.

Saya memilih pariwisata Indonesia sebagai topik presentasi saya. Penyajiannya menggunakan powerpoint sederhana (karena saya waktu itu tidak sempat membuat yang bagus), dan menggunakan bentuk karangan analytical exposition, seperti tugas akhir di tempat saya belajar bahasa Inggris. Syukurlah presentasi saya juga berjalan dengan menyenangkan. Ketiga juri suka dengan presentasi saya, meskipun masih banyak kekurangan disana sini.

Di tahap ini, sisa 11 orang lagi. beberapa hari kemudian, saya dinyatakan lulus dan boleh mengikuti tahap akhir, interview kedua.

5. Tahap Interview II

 

Di tahap ini, sisa 5 orang termasuk saya. Kami diwawancara oleh psikolog UNPAD untuk mengetahui kesiapan mental kami dalam bertahan di Jepang. Di tahap ini, saya benar2 pasrah. Saya tahu bagaimana kemampuan semua orang yang tersisa, dan saya menyadari kemampuan saya yang biasa saja, Jadi saya benar-benar telah menyiapkan diri seandainya gagal.

Alhamdulillah, selang seminggu, akhir Maret, saya dapat sms yang menyatakan saya adalah penerima beasiswa Rikkyo tahun ini, sebagai peringkat kedua. Artinya saya bisa berangkat ke Jepang meski hanya gratis biaya asrama. Nah lho?

Perasaan sebagai penerima RUID?

Saat tahu bahwa saya benar telah lolos seleksi dan bisa berangkat ke Jepang bulan September, saya benar-benar senang dan tidak menyangka bisa lolos. Akan tetapi, muncul masalah berikutnya, bisakah saya bertahan hidup di Jepang selama satu tahun tanpa ada bantuan biaya hidup?

Dari awal saya mengikuti seleksi, saya sudah menyadari konsekuensi menjadi peringkat dua. Sejak awal pula saya tahu bahwa di Jepang ada banyak kesempatan kerja part time untuk menghidupi diri. Karena itulah saya berani mengambil kesempatan ini.

Sebetulnya, peringkat satu seleksi ini ditawari beasiswa lain oleh Rikkyo dan lulus sehingga saya punya kesempatan mendapatkan beasiswa JASSO untuk biaya hidup. Akan tetapi, pihak Jepang menolak memberikan saya beasiswa tersebut dan akhirnya tetap hanya memberi saya beasiswa RUID seperti rencana semula. Saya sempat sedih saat tahu hal ini, tapi ibu saya menguatkan dengan mengatakan bahwa rezeki itu Allah yang atur. Mungkin beasiswa JASSO bukan rezeki saya, dan ada hal yang luar biasa yang menanti saya.

Persiapan ke Jepang beberapa bulan ke belakang?

Akhirnya saya memantapkan hati untuk tetap berangkat ke Jepang meski hanya dapat asrama gratis. mulailah saya bergerilya melakukan persiapan; mengajukan proposal ke banyak tempat untuk bantuan dana, les bahasa Jepang di dua tempat agar bahasa Jepang saya mantap, memperpanjang paspor, mengurus foto dan urusan lainnya.

Selama mengurus berbagai hal terkait keberangkatan saya, alhamdulillah, saya selalu diberikan kemudahan oleh Allah. Kampus memberikan saya bantuan dana untuk tiket dan visa jadi saya tidak perlu minta orang tua. Selain itu, Saung Udjo juga memberikan bantuan berupa suvenir untuk dibagikan ke teman-teman di Jepang. Kemudian, proses mengurus paspor, dan certificate of finance sebagai syarat hidup di Jepang pun dipermudah. Ada beberapa halangan tapi alhamdulillah, Allah selalu memberi kekuatan dan jalan untuk melewati semuanya.

Karena dulu saya pernah gagal berangkat ke Laos, saya selalu merasa khawatir dan takut bahwa saya akan batal juga berangkat ke Jepang. Saya baru agak yakin saat certificate of eligibility telah sampai di tangan. Saat visa saya jadi, detik itu akhirnya saya yakin bahwa saya benar akan berangkat ke Jepang pada 2 September 2012.

Reaksi orang-orang terdekat?

Saat mengetahui bahwa saya akan berangkat ke Jepang, keluarga saya mendukung sepenuhnya. Begitu pula teman-teman saya. Ada juga sih orang-orang yang menyayangkan keputusan saya cuti kuliah setahun demi mengejar Jepang yang notabene tanpa gelar. Banyak juga yang menyangsikan kemampuan saya akan bisa bertahan hidup tanpa adanya beasiswa biaya hidup yang menyokong saya di Jepang.

Menghilangkan keraguan?

Semakin saya diragukan, saya malah makin mantap untuk segera berangkat. Saya tahu, ini langkah yang sangat berani. Berangkat ke Jepang tanpa ada kejelasan soal biaya hidup, tetapi saya yakin dan sejak awal diterima saya percaya ini jalan kuliah di Jepang yang tidak boleh disia-siakan. Saya percaya, Allah tidak akan menelantarkan hambaNya ataupun memberi cobaan melebihi kemampuan saya.

Ibu saya, yang awalnya ketar ketir juga, setelah melihat kemantapan saya akhirnya hilang keraguannya dan senantiasa meyakinkan saya. Beliau selalu bilang, “Jangan takut Kak, di mana mana itu tanah Allah. Orang Jepang, orang Amerika, orang Indonesia itu semua ciptaan Allah. Jadi jangan khawatir. Jangan lupa shalat dan berdoa semoga semua urusan kamu dilancarkan.” Alhamdulillah, saya jadi makin mantap.

Saya lalu berangkat, dengan kemampuan bahasa Jepang seadanya, dan kerudung yang melekat di kepala saya. Sendirian naik maskapai kebanggaan Indonesia, Garuda, saya pergi ke Jepang, untuk menyongsong kehidupan baru dan membawa sejuta pengalaman saat kembali ke Indonesia. Semoga niat saya untuk menjadi orang sukses yang dapat membanggakan keluarga, almamater dan negara tercapai. Dan semoga juga saya tetap konsisten menegakkan nilai-nilai yang biasa saya pegang di manapun saya berada. Alhamdulillah, saat ini saya masih bisa bertahan hidup di Jepang dan turut menjadi bagian dari keluarga besar PPI Jepang.

Penulis: Farah Fitriani
Staf Biro Informasi dan Teknologi PPI Jepang 2012/2013
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung
Saat ini pertukaran pelajar di Rikkyo University, Ikebukuro, Tokyo