Kenapa kuliah di Jepang?

“どうして日本に勉強していますか? (Kenapa belajar di Jepang?)”. Itu salah satu pertanyaan yang cukup sering ditanyakan di kelas bahasa Jepang. Bingung juga menjawabnya dengan bahasa Jepang yang pas-pasan. Biasanya saya jawab asal-asalan saja, semisal karena dapat beasiswa ke sini atau karena mau mengambil pendidikan master ke sini. :D

Sebagian orang mungkin memang ingin sekali ke Jepang karena suka budaya Jepang, atau suka anime/manga/J-dorama, dan sejenisnya. Saya agaknya tidak masuk kategori itu. Saya juga tidak begitu kenal dengan Jepang sebelum saya ke sini. Kenapa pilihannya akhirnya jatuh ke Jepang, itu karena sejumlah pertimbangan. Atau mungkin Allah mengaminkan karangan saya di kelas bahasa Inggris waktu SMA dulu. Saat itu disuruh menulis dari salah satu topik yang tersedia. Dari sekian topik yang ada, waktu itu saya rasa yang gampang dikarang buat saya adalah topik terkait study abroad, dan saya memilih Jepang saat itu.

Alasan yang saya kemukakan saat itu intinya ada dua. Pertama, Jepang adalah negara maju yang kemajuan teknologinya sudah diakui di seluruh dunia. Namun dengan kemajuan teknologinya itu, Jepang masih memegang nilai-nilai dan kultur yang bagus seperti disiplin, jujur, kerja keras, dsb. Well, ini alasan yang standar dan klise sekali. Kalau di wawancara Anda ditanya kenapa memilih Jepang dan memberikan jawaban ini, saya rasa pewawancara juga bosan mendengarnya, kekeke. :mrgreen:

Kedua, Jepang adalah negara timur, artinya budaya mereka juga budaya timur. Jujur saya tidak siap mental kalau hidup di lingkungan budaya barat. Budaya barat yang saya maksud adalah dalam artian pergaulan tanpa batas antara laki-laki dan perempuan, ciuman di tempat umum dan seks di luar nikah jadi hal biasa, dan sejenisnya. Memang, tak perlu jauh-jauh ke negara barat, di Jepang atau bahkan di kampung kita sendiri juga ada yang melakukan. Tapi yang jelas hal itu tidak dominan, di lingkungan sehari-hari jarang ditemukan. Tapi mungkin pikiran saya salah, hehe.

OK, itu alasan saya versi karangan saya waktu SMA. Di tahun terakhir saya di ITB, saya sudah mesti memikirkan jalan apa yang akan saya ambil sehabis lulus. Saya belum kepikiran untuk bekerja, jadi satu-satunya opsi yang ada di kepala saya saat itu adalah: lanjut S2. Pertanyaan selanjutnya: di mana? Kalau mau gampang sebenarnya bisa S2 di ITB saja. Tapi selama pengerjaan TA, saya merasa kurang puas dengan proses yang saya jalani. Saya merasa tidak tahu yang namanya riset itu seperti apa, saya ingin tahu para peneliti itu meneliti seperti apa, dan saya merasa kalau saya S2 di ITB keingintahuan saya akan riset tidak terjawab (tapi lagi, mungkin pikiran saya salah, hehe). Saya pun mulai berpikir untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Pertanyaan selanjutnya: ke negara mana?

Saya mulai mencari-cari informasi beasiswa ke luar negeri. Info beasiswa Monbukagakusho ke Jepang, ADS ke Australia, BGF ke Perancis, AMINEF ke USA, dan Erasmus Mundus ke Eropa sudah saya baca persyaratan serta kapan buka pendaftarannya. Untuk beasiswa ke Jepang sendiri sempat saya hapus dari keinginan saya, berhubung waktu itu saya kira untuk S2 di Jepang mesti bisa bahasa Jepang, sementara saya tidak bisa bahasa Jepang sama sekali. Hingga suatu ketika, teman saya yang dulu sempat S1 di IF-ITB lalu pindah ke Jepang mengontak saya. “Reisha masih minat kuliah ke Jepang ga?” Saya bilang saja, “Hmm, pengen sih, tapi kayaknya ga mungkin deh. Ga bisa bahasa Jepang soalnya”. Dia pun membalas, “kalau S2 kayaknya ada yang program bahasa Inggris deh, coba cari-cari infonya”. Nah, seketika Jepang yang tadinya saya coret dari daftar tujuan, saya perhitungkan lagi.

Saya pun makin semangat cari-cari info. Kontak senior yang sudah di Jepang, tanya-tanya soal prosedur beasiswanya, dan semacamnya. Nah, dari segi waktu pendaftaran pun, beasiswa Monbukagakusho buka pendaftarannya lebih awal. Rata-rata proses untuk mendapatkan beasiswa itu butuh waktu berbulan-bulan. Target saya setelah lulus (bulan Oktober 2009), saya ga mau nganggur terlalu lama, jadi saya mesti cari beasiswa jauh-jauh hari sebelum lulus. Beasiswa Monbukagakusho buka pendaftaran bulan April, beasiswa ke Eropa atau Australia baru buka sekitar akhir tahun. Karena sudah duluan buka pendaftaran, tentunya saya tidak mau melewatkan kesempatan itu. Dan rencananya kalau ternyata saya tidak dapat beasiswa Monbukagakusho, saya mau coba apply EMCSE-nya Erasmus Mundus. Kedubes Jepang akhirnya memberikan kabar baik ke saya. Yak, artinya jalan saya memang ke Jepang. 0==(D)

Di samping alasan serius seperti di atas, ada juga sih beberapa alasan ga penting, hehe. Dari negara-negara yang saya pertimbangkan, mayoritas adalah negara subtropis dengan empat musim. Singapura atau Malaysia mungkin pendidikannya juga bagus, tapi saya tidak tertarik, karena masih dekat dengan Indonesia, hihi. Kalau bisa merasakan empat musim kenapa tidak, hehe.

Alasan ga penting lainnya adalah soal bahasa Inggris. Saya akui bahasa Inggris saya pas-pasan, dan saya yakin tidak akan cukup untuk level kuliah di Eropa atau Amerika. Saya tahu bahasa Inggris orang Jepang juga pas-pasan, jadi saya pikir tidak masalah jadinya. Saya gampang minder soalnya, dan kalau berada di kondisi “yang paling bodoh” justru saya kehilangan semangat, bukannya malah terpacu. Kacau sih emang ini alasannya. Tapi lama-lama yang saya rasakan tinggal di Jepang justru membuat bahasa Inggris saya semakin kacau, sementara kemampuan bahasa Jepang pun tidak meningkat. Hadeeeh. Saran saya sih kalau Anda ingin lebih lancar berbahasa Inggris, jangan kuliah di Jepang.

Pada akhirnya, di mana pun kita belajar pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan untuk menetapkan suatu pilihan kadang satu alasan saja tidak cukup. Di sisi lain, menurut saya kalau ada kesempatan, ada baiknya juga mencoba merasakan belajar di luar negeri. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan serta pelajari saat kita berada di luar negeri, entah itu dari sisi ilmunya sendiri atau bahkan cara pandang kita terhadap tanah air kita sendiri. :)

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
[kutipan perkataan Imam Syafi’i]

Penulis: Reisha Humaira
Mahasiswa S2 Waseda University, Tokyo (2010-2013).
Tulisan-tulisannya tentang mendapatkan beasiswa ke Jepang maupun kehidupan di Jepang secara umum dapat diikuti di blognya: