Upaya Menaklukkan Hirosaki

Perkenalkan, saya Ibnu Fathrio, atau panggil saja Ibnu. Saya bekerja di Pusat Sains Atmosfer LAPAN (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional). Riset keseharian saya berkutat dengan ilmu meteorologi dan klimatologi, baik pengamatan maupun pemodelan. Namun latar belakang pendidikan S1-S2 sebelumnya sedikit berbeda, saya lulus dari jurusan Fisika ITB dengan bidang keahlian fisika bumi. Sekarang saya sedang mengambil kuliah S3 di Hirosaki University di jurusan Meteorologi.

Ilmu meteorologi merupakan hal yang baru bagi saya dan saya terpacu untuk belajar lebih giat lagi dengan coba-coba mencari kesempatan beasiswa di luar negeri. Di LAPAN kami beberapa kali mengundang ahli-ahli sains atmosfer dan antariksa untuk mengisi acara dalam berbagai seminar / kuliah umum dan kami sering bekerja sama dengan RISH-Kyoto University. Nah, di kuliah inilah saya pertama kali berkenalan dengan sensei saya. Dalam sebuah kuliah, salah satu pakar yang diundang adalah (yang kemudian menjadi sensei / pembimbing saya) Yasumasa Kodama, berasal dari Hirosaki University.

Jalan untuk mendapatkan beasiswa tidaklah mudah. Berkali-kali menemui kegagalan saat mencoba peruntungan dengan beasiswa Monbushodan beasiswa lainnya. Tapi yang namnaya rejeki sih gak kemana. Meski gagal dalam Monbusho, di saat yang sama ada secercah peluang untuk mendapatkan beasiswa lain dari program “RISTEK karyasiswa”. Program ini diperuntukan kepada para PNS di lembaga-lembaga nondepartemen atau lembaga di bawah koordinasi Menristek, seperti LAPAN, LIPI, BATAN, dan BPPT. Beasiswa ini termasuk sangat baru, karena baru dimulai tahun 2010 untuk jenjang S2 dan S3 di dalam negeri. Semenjak tahun 2011 beasiswa ini juga mendukung studi S3 ke luar negeri. Beasiswa ini hanya mensyaratkan proposal penelitian, tanda penerimaan dari calon pembimbung atau Letter of Acceptance (LoA) dan nilai TOEFL minimum 500, jadi bisa dibilang tidak terlalu sulit.

Saat saya melamar beasiswa ini, saya cukup beruntung karena kuota pelamar beasiswa ini masih di bawah kuota beasiswa yang direncanakan RISTEK. Alhamdulillah saya dapat lulus persyaratan untuk mendapatkan beasiswa ini. Untuk ukuran studi di Jepang, besar beasiswa ini memang sedikit di bawah nilai nominal beasiswa Monbusho. Walaupun begitu, untuk hidup di kota dengan standar hidup seperti Tokyo, beasiswa ini bisa dikatakan lebih dari cukup.

Sebelum dinyatakan lulus sebagai mahasiswa S3 di universitas ini, saya harus melewati ujian masuk berupa presentasi di depan para penguji (professor) dari berbagai bidang keahlian. Materi yang dipresentasikan adalah topik riset yang dilakukan sebelumnya (topik tesis S2) dan juga rencana studi S3. Ujian masuk ini dilaksanakan hanya sebulan sebelum semester dimulai, yaitu pada bulan Juli 2011. Alhamdulillah untuk ujian masuk ini, biaya kehidupan saya juga didukung oleh program RISTEK karyasiswa lainnya yang bernama “program pemagangan penelitian”. Di bawah program ini, peserta diberi jatah 3 bulan untuk melakukan riset di luar negeri.

Karena tahun ini merupakan tahun pertama penyelenggaraan program beasiswa ini, proses pendaftaran di universitas harus dilakukan oleh kita sendiri. Namun kita tidak perlu cemas, karena biasanya sensei sudah menyiapkan dan akan membantu kita dalam pengurusan proses pendaftaran ke universitasnya. Biaya kuliah di universitas negeri di Jepang umumnya sama. Saat pertama kali masuk, kita harus membayar biaya ujian masuk sebesar 30.000 yen, biaya pendaftaran sebesar 282.000 yen dan biaya per semester sebesar 267.900 yen. Semua biaya ini ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa RISTEK karyasiswa.

Kota yang sekarang saya tempati bernama Hirosaki, yang bisa dibilang merupakan kota kecil, jadi biaya hidupnya tidak semahal kota-kota besar Jepang seperti Tokyo. Biasanya perbedaan yang mencolok adalah pada harga sewa apartemen (apato)-nya. Di kota ini kita masih bisa mendapatkan apato ukuran 6 tatami dengan harga 19-20 ribu yen, yang lokasinya hanya 10-15 menit dari kampus (ditempuh dengan jalan kaki). Untuk biaya hidup secara keselurahan “cukup” menyediakan 80 ribu yen. Biaya ini dengan asumsi masak makanan sendiri (tidak beli di kantin), pasang internet di apato dan di handphone, dengan asumsi harga sewa apato 20-30 ribu. Saat musim dingin biayanya sedikit membengkak karena harus membeli minyak bahan bakar untuk penghangat ruangan (18 liter minyak ~ 1.500 yen). Pada musim dingin (salju turun mulai akhir November) kota Hirosaki memiliki suhu maksimum nol derajat dan selalu tertutup salju sepanjang hari.

Oh ya, di kampus saya tidak ada kantin yang menjajakan makanan halal, jadi otomatis kita terpaksa berhemat dengan masak sendiri (2.000 yen untuk seminggu jika bisa menghemat). Komunitas muslim di sini memang sedikit, tapi kami menyewa apato di dekat kampus untuk dijadikan musola sehingga kita bisa sholat berjamaah lima waktu di sana. Setiap hari Jumat alhamdulillah kami tidak pernah absen dari sholat Jumat meskipun hanya dihadiri oleh sekitar 10 orang. Jamaahnya terdiri dari muslim dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, dan Pakistan. Bahkan waktu Idul Adha kami sempat melakukan kurban kambing, tetapi tentunya tidak secara terang-terangan karena penyembelihan hewan tanpa lisensi itu dilarang di Jepang. Persaudaraan antarmuslim di sini begitu kental terasa meski kita berasal dari negara dan bahasa yang berbeda-beda.

Soal kerja paruh waktu (baito) sepertinya disini tidak terlalu populer karena kota ini tidak terlalu ramai. Kalaupun ada, biasanya teman-teman saya melakukan baito di pabrik apel. Jika mahir berbahasa Jepang mungkin bisa dapat baito yang lebih tinggi honornya. Masih soal finansial, untuk mahasiswa yang kesulitan keuangan, terdapat fasilitas keringanan uang kuliah yang diberikan oleh universitas. Keringanan uang kuliah ini bisa didapatkan namun besarannya bermacam-macam. Contoh kasus, mahasiswa asal Bangladesh dibebaskan dari biaya pendaftaran dan biaya semester, dan ada juga mahasiswa lain yang hanya membayar 50%.

Hirosaki adalah kota wisata, dengan salah satu tempat wisatanya yang terkenal adalah Hirosaki Castle. Di tiap musim juga selalu diadakan festival. Sebagai contoh, pada pertengahan musim panas (2-7 Agustus) di kota ini sering diadakan festival Nebuta. Nebuta adalah lentera ukuran raksasa yang dibuat dari kerangka kayu berlapis washi yang umumnya berbentuk boneka pemeran kabuki atau hewan. Nebuta diusung dengan kendaraan hias untuk berpawai di jalan-jalan. Menurut saya, waktu yang paling menyenangkan di Hirosaki adalah saat musim dingin ketika kita dengan mudah mendapatkan akses untuk bermain ski dan snowboard yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota Hirosaki. Selain kota wisata, Hirosaki juga dikenal sebagai kota penghasil apel terbesar di Jepang. Sekitar 20% apel di Jepang berasal dari kota ini. Musim panas di Hirosaki pun tidak terlalu panas seperti di kota lainnya, dengan suhu tertinggi sekitar 32-33 derajat celcius.

Demikian pengalaman singkat perjuangan sejauh ini untuk untuk menaklukkan kota Hirosaki dan universitasnya. Semoga para pembaca berkenan berkunjung ke kota ini. Khusus bagi para pemburu beasiswa, satu tips penting dalam mencari sekolah dan dukungan biaya hidup adalah agar jangan terlalu terpaku pada sekolah-sekolah dan beasiswa top. Kadang kesempatan datang dari sekolah kecil yang kualitasnya sama baiknya seperti sekolah dengan nama besar. Beasiswa pun bisa diupayakan dari berbagai cara yang tidak kita duga.

Semangat!