Pokoknya harus keluar negeri, GRATIS!!!

Cerita dimulai ketika saya duduk di SMA kelas 2. Waktu itu, saya bersekolah di sekolah berasrama yang mewajibkan seluruh siswanya tetap di dalam asrama selama 7×24 jam. Dengan aturan yang cukup ketat, tak jarang dari para siswa mencari cara relaksasi di luar sekolah. Salah satu cara yang saya tempuh adalah dengan mengikuti pameran pendidikan Jepang di Jakarta.

Di acara inilah saya mulai bisa bermimpi. Ya, bermimpi bahwa dunia perkuliahan bukan cuma di Indonesia, tapi juga di luar sana. Sejak saat itulah, saya jadi rajin mencari informasi tentang beasiswa-beasiswa yang ada untuk lulusan SMA. Lho kok jadi beasiswa? kan mimpinya “cuma” keluar negeri? Jawabannya, saya harus sadar diri. Keluarga pasti tidak akan mampu membiayai ke luar negeri. Jadi, harus cari sendiri! ^_^

Perburuan beasiswa pun dimulai. Jerman, Malaysia, Singapura, serta Jepang, semua kesempatan yang mungkin ada saya cari. Informasi mengenai beasiswa-beasiswa ini sudah saya dapatkan sejak kelas 2, atau kalau sistem yang sekarang berarti kelas XI.

Pengejaran beasiswa dimulai dari Jerman. Ada universitas yang bersedia menerima saya sebagai mahasiswa S1. Tapi ternyata butuh biaya hidup sendiri. Bagi saya, artinya mustahil. Lalu ke Singapura, ada NTU dan NUS. Mencoba mendaftar ke sana, ternyata langsung gagal di seleksi dokumentasi. Berarti memang rezeki saya bukan di Singapura. Saya lanjutkan lagi ke Malaysia, ada beasiswa Petronas. Setelah berhasil tembus di seleksi dokumentasi, selanjutnya adalah ujian tulis dan wawancara. Tapi lagi-lagi hasilnya belum memuaskan. Ketika salah satu teman saya dipanggil ke tahap berikutnya, tidak ada telepon yang masuk ke saya. Sekali lagi, saya meyakinkan diri bahwa rezekinya bukan di Malaysia.

Kesempatan terakhir saya adalah ke Jepang. Waktu itu hanya ada beasiswa monbukagakusho program D2, D3, dan S1. Khusus beasiswa ke Jepang, saya memang menyiapkan strategi khusus. Alasannya, karena beasiswa yang satu ini memiliki persyaratan yang sedikit berbeda. Nilai yang dilihat hanyalah nilai pada semester terakhir. Artinya, seburuk apapun nilai rapor saya ketika kelas 1 dan 2, selama nilai saya bisa bagus di semester 2 kelas 3, saya bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Pada saat itu (2005), syarat minimalnya adalah 7,6 (tujuh koma enam) untuk D2, 7,8 (tujuh koma delapan) untuk D3, dan 8,0 (delapan koma nol) untuk S1.

Bagaimana dengan strategi khususnya? Pertama, saya harus “sadar diri”. Ya, saya harus “sadar diri” dengan kemampuan sendiri. Saat itu, bagi saya mendapatkan rata-rata rapor 8 adalah hal yang hampir mustahil. Sejak awal masuk SMA, rata-rata raport tidak pernah lebih dari 7,8. Akhirnya, setelah meyakinkan diri, saya mantapkan hati, saya putuskan untuk “mengorbankan” nilai semester 1 kelas 3, untuk memperbaiki nilai semester 2 kelas 3. Alih-alih belajar pelajaran semester 1, saya malah belajar materi semester 2. Tujuannya cuma satu, mengejar rata-rata rapor 8,0.Perjuangan yang cukup memakan waktu, karena dimulai dari awal semester 1, dan berakhir di semester 2 akhir. Tapi alhamdulillah, perjuangan saya membuahkan hasil. Rata-rata raport saya pas 8,0. Jadi, cukup untuk mendaftar beasiswa Monbusho untuk S1.

Selanjutnya, saya kembali putar otak. Syarat minimal untuk mendaftar adalah 8,0. Tapi, untuk bisa dipanggil seleksi tertulis, apakah 8,0 cukup? Apalagi, ternyata teman-teman satu sekolah yang nilai rata-ratanya di atas 8,0 pun banyak yang mencoba mendaftar. Lagi-lagi, saya kembali menjalankan strategi khusus. Saya putuskan untuk mendaftar beasiswa D3 yang memiliki syarat 7,8. Kok mau ambil diploma-3? Jawabannya ada pada mimpi saya di awal, “Pokoknya harus keluar negeri, GRATIS!!!”

Pengumuman peserta ujian tulis pun keluar. Alhamdulillah lagi, saya dipanggil ujian tulis D3. Ternyata benar strategi saya, teman satu sekolah yang rata-rata raportnya 8,1 pun tidak dipanggil untuk ujian S1. Dari teman-teman satu sekolah yang dipanggil, waktu itu rata-rata terendahnya sekitar 8,2. Satu langkah menuju mimpi di awal. Alhamdulillah.

Ujian tulis akhirnya diikuti, saya pun kembali lolos seleksi. Tahap berikutnya dipanggil untuk wawancara. Di sini pun saya sudah siapkan strateginya. Apapun pertanyaannya, pokoknya harus PD, walaupun kemampuan otak terbatas, tapi kita akan berjuang keras untuk bisa survive di Jepang. Apalagi nanti kuliahnya dengan Bahasa Jepang. Sudah pasti, kesiapan mental akan ditanyakan. Izin dari orang tua pun pasti disinggung. Sebab kita akan merantau jauh, dan mungkin akan sulit bertemu orang tua.

Selain itu, kita juga harus menyiapkan mimpi-mimpi kita. Waktu itu (2005), saya yang masih kelas 3 SMA cuma bilang, “Saya mau bikin tol otomatis di Indonesia. Supaya nggak perlu ada petugas tol yang jaga gardu malam-malam. Kasihan mereka harus lembur.” Jelas, singkat, dan pastinya bermanfaat. Lupakan dulu sejenak masalah mungkin atau tidak mungkin. Kita ini lulusan SMA. Ilmunya pasti nggak seberapa. Justru, yang harus ditonjolkan adalah semangat juang, dan kemampuan bermimpi!

Dengan sedikit strategi khusus karangan sendiri, alhamdulillah saya bisa berangkat ke Jepang pada April 2006. Sejak itulah kehidupan saya di Jepang dimulai. Ya, kehidupan sederhana, yang dimulai dari sebuah mimpi seorang anak remaja, “Pokoknya harus keluar negeri, GRATIS!!!”

Penulis: Rodiyan Gibran Sentanu
Ketua Umum PPI Jepang 2012-2013
Saat tulisan ini diterbitkan sedang menempuh S2 di Chiba University