Ingin pascasarjana ke Jepang? Baca ini dulu!

Bismillah…

Banyak yang bertanya hal yang kurang lebih sama kepada saya:

“…Apa yang kira-kira perlu disiapkan untuk bisa mendapatkan beasiswa S2 (atau pascasarjana) ke Jepang…?”

Insya Allah akan saya uraikan jawabannya di sini.

Hajimemashou…

Persiapan yang baik adalah persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari secara matang dan terencana. Namun jika Anda baru menyiapkan sekarang-sekarang ini, insya Allah tetap bisa mencobanya.

Hal yang perlu disiapkan:

Persiapan mental dan spiritual

Jika Anda saat ini adalah mahasiswa tingkat awal (1, 2, dan 3), Anda masih memiliki waktu yang sangat cukup untuk menyiapkan diri. Jika Anda adalah mahasiswa tahun terakhir atau bahkan sudah lulus… insya Allah Anda masih bisa mencoba dan mempersiapkan diri. Persiapan yang diperlukan di sini adalah terkait dengan pembentukan karakter, pola pikir, dan manajemen diri. Mungkin akan ada yang menyeletuk:

“Walah mau persiapan sekolah ke luar negeri aja repot gitu…?”

Saya dengan tegas akan menjawab:

“Ya tentu, agar kita tidak repot sendirinya nanti selama di sana.”

Pembentukan karakter ini penting agar setiap orang nantinya memiliki komitmen dan prinsip diri selama berada di negeri asing. Tidak melebur dan hancur, namun mampu menyerap hal-hal positif selama di sana, mengembangkannya, dan mendayagunakannya untuk hal-hal yang lebih baik nantinya.

Pembentukan karakter dan pola pikir juga bermaksud agar masing-masing orang yang ingin studi di luar negeri nantinya tidak hanya berpikir bahwa ke sana itu hanya sekedar “jalan-jalan, gengsi, menikmati budaya, merasakan berbagai musim…” namun agar setiap individu sadar bahwa tujuan ke negeri di luar sana adalah untuk: BELAJAR, BELAJAR, dan BELAJAR. Bahwa di balik indahnya “jalan-jalan” menikmati sakura, tebalnya salju, indahnya musim gugur, atau budaya Jepang yang sangat khas, ada sebuah tanggung jawab besar yang jauh lebih penting yaitu bagaimana bisa menyelesaikan studi dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan. Perbedaan pola pikir dan pola kerja antara Jepang dan Indonesia inilah character shock utama yang pasti akan dirasakan, namun justru jarang dipersiapkan dalam menghadapinya.

Anda bisa memulai persiapan tahap ini dengan melatih diri untuk hidup secara teratur, terencana, kerja keras dan disiplin. Di Jepang nantinya Anda mungkin akan berhadapan dengan kondisi akademis yang berbeda. Jika basis Anda nantinya adalah penelitian di Lab, bisa jadi keseharian Anda nantinya hanya akan dipenuhi dengan kegiatan di Lab yang kadang terasa monoton dan menjemukan. Dari pagi hingga malam, bahkan ketika Anda tidak ada kegiatan khusus di Lab, Anda akan merasakan bahwa Anda harus berada di Lab hingga hari Sabtu dan Minggu sekalipun. Tentu nantinya hal seperti ini sifatnya kondisional tergantung Lab Anda sendiri.

So… biasakan diri Anda dengan kondisi-kondisi seperti ini, kerja keras berdasarkan target dan rencana, hidup teratur (misal membiasakan membuang sampah pada tempat sampah, memisahkan sampah berdasarkan jenisnya) dan lainnya. Insya Allah itu akan sangat membantu Anda nantinya.

Persiapan kemampuan diri / Skills

Kemampuan pertama yang perlu disiapkan adalah: komunikasi. Dalam hal ini paling tidak bahasa Inggris. Zaman sekarang berbahasa secara pasif saja tidaklah cukup, harus dilengkapi keaktifan berkomunikasi secara verbal. Dan ini tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Jika Anda punya alokasi dana untuk ikut kursus Bahasa Inggris, sangat disarankan untuk ikut. Pilih kursus yang benar-benar bisa membantu Anda meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris. Beruntunglah mereka yang sejak SD atau SMP mendapatkan pelajaran bahasa Inggris, memahami bahwa bahasa Inggris suatu saat nanti akan sangat diperlukan, sehingga kemudian benar-benar serius mendalaminya dan mendapatkan manfaatnya sekarang.

Sayangnya banyak yang ketika SD ? SMA dapat pelajaran Bahasa Inggris, namun justru main-main dan baru menyadari sekarang bahwa ternyata bahasa Inggris benar-benar diperlukan. Semoga Anda tidak termasuk di dalam kelompok orang-orang ini.

Namun cukupkah pasif dan aktif dalam berbahasa Inggris? Ternyata belum… karena rata-rata persyaratan yang diajukan oleh pemberi beasiswa saat ini biasanya mencantumkan adanya bukti resmi kemampuan berbahasa Inggris ini. Misalnya TOEFL, TOEIC, atau IELTS dengan standar skor yang telah ditetapkan oleh pemberi beasiswa. Misalnya untuk TOEFL, biasanya yang diminta adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui secara resmi secara internasional dengan skor minimal rata-rata adalah 550. Dan bagi sebagian orang hal ini memerlukan perjuangan ekstra dalam mencapainya bukan hanya mempersiapkan untuk memenuhi standar minium skor tersebut, tapi juga finansial untuk bisa mendaftar mengikuti tesnya.

So… persiapkan yang terbaik secara matang dan terencana… jauh-jauh hari.

Apakah kemampuan bahasa Jepang diperlukan dalam seleksi? Tentang ini sifatnya tergantung dari masing-masing panitia seleksi. Ada yang tidak mensyaratkan, ada yang mensyaratkan untuk lulus tes kemampuan bahasa Jepang setelah nanti berada di Jepang. Jika memang punya dasar bahasa Jepang, alhamdulillah itu akan jauh lebih baik nantinya. Kemampuan berkomunikasi akan sangat membantu Anda bertahan hidup di Jepang. Bahkan jauh hari sebelum berada di Jepang, misalnya komunikasi dengan calon Professor.

Kemampuan kedua yang perlu disiapkan adalah pengetahuan sesuai dengan bidang Anda saat ini atau bidang yang akan diambil nantinya ketika di Jepang. Misalnya, jika Anda adalah mahasiswa biologi, paling tidak Anda memiliki pengetahuan bidang anatomi makhluk hidup. Jika nantinya kerja Anda akan banyak di Lab, Anda harus menyiapkan diri untuk dapat memenuhi ketentuan perilaku di Lab (Laboratory Manner), dan tentunya kemampuan operasional peralatan (yang ini bisa ditingkatkan nanti).

Persiapan proposal / rencana penelitian dan studi

Ini merupakan syarat utama yang pasti selalu ada ketika Anda ingin melamar beasiswa studi S2 ke Jepang atau negara lainnya. Tentunya dalam bahasa Inggris. Bahkan gagasan utama dalam rencana riset/studi ini bisa menjadi penentu lolos atau tidaknya Anda untuk diseleksi.

Menyusun proposal riset itu gampang-gampang-mudah. Tergantung dari masing-masing individunya. Mengenai detail penyusunan proposal riset pasti dapat Anda temukan di kampus Anda masing-masing. Jadi silakan bertanya ke dosen atau kakak kelas yang saat ini sedang menyusun tugas akhir tentang hal ini.

Yang jelas, usahakan menyusun tema proposal riset ini yang sesuai dengan bidang Lab / Prof yang ingin Anda tuju dan sebaiknya berkaitan dengan bidang S1 anda saat ini. Itu akan mempengaruhi penilaian. Dari mana datangnya ide? Dari membaca buku, jurnal ilmiah, majalah, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, dan lainnya. So persiapkan dengan cara terbaik.

Persiapkan calon professor (sensei) yang akan dituju

Di Jepang, kedudukan profesor atau Sensei terhadap mahasiswanya (khusunya anggota Lab-nya) itu sangat penting. Bahkan ada istilah “guyonan serius”: “Nasib studimu di Jepang itu berada di tangan Sensei”.

Hal ini wajar karena memang sensei-lah yang menjadi penjamin kita selama studi di Jepang. Jika sensei sudah mengatakan, “Oke saya akan mengundang Anda untuk studi di Lab saya”… insya Allah Anda sudah mendapatkan tiket untuk studi ke Jepang. Oleh karena itu carilah Prof / Sensei sejak jauh-jauh hari.

Bagaimana mencari sensei yang tepat? Banyak caranya, yang saya lakukan adalah mencari alamat email masing-masing sensei di situs universitasnya. Saya baca publikasi dan bidang keahliannya. Jika cocok, saya kemudian mengirimkan email beserta proposal riset yang sudah saya buat sebelumnya.

Terkadang butuh proses dan kesabaran. Saya butuh waktu 2 tahunan untuk mendapatkan sensei yang tepat. Orang lain mungkin bisa mendapatkan lebih cepat. Semuanya tergantung kondisi. Yang pasti harus diusahakan. Silakan simak tulisan blog saya mengenai beberapa tips mencari profesor di Jepang.

Persiapkan surat rekomendasi dari dosen/universitas

Di Jepang, surat rekomendasi memiliki peran penting dalam menilai calon mahasiswa. Oleh karena itu, sebaiknya Anda memiliki seseorang yang mengenal Anda dengan dekat (Dosen/Pejabat Kampus) yang bisa merekomendasikan diri Anda secara kuat ke calon Prof/Universitas/Panitia Seleksi. Anda bisa menyiapkan diri dengan membangun hubungan yang baik dengan dosen Anda di kampus, mulai dari sekarang.

Persiapan mendaftar seleksi beasiswa

Anda bisa mengikuti berbagai macam seleksi beasiswa. Selama Anda tahu info kapan pembukaan seleksi itu dibuka. Anda bisa mencari tahu di situs kedutaan Jepang, situs perusahaan Jepang (misal Panasonic, Fujitsu, Hitachi), bisa dari pengumuman di kampus, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, atau membuka website Pondok Beasiswa PPIJ ini. 8) Anda bisa juga mencoba cara saya mencari satu per satu di Google, meski butuh usaha ekstra juga.

Namun biasanya pembukaan seleksi diadakan akhir tahun atau antara bulan Januari-Mei. Jadi mulailah mencari dan mengumpulkan info dari sekarang. Setelah menemukan infonya, jangan lupa membaca seluruh ketentuan syarat detailnya dan penuhi syarat-syarat itu tanpa kecuali. Meski kadang butuh usaha dan pengorbanan ekstra untuk memenuhinya.

***

Mungkin demikian gambaran umumnya yang bisa saya jelaskan. Jika ada yang kurang jelas, silakan bisa ditanyakan. Jika ada rekan-rekan lain yang ingin menambahkan, dipersilahkan juga dengan sangat. Jika ada yang keliru mohon koreksiannya.

Catatan Tambahan:

Saya sering sekali mendengar/membaca keluhan seperti ini:

“… saya hanya orang pelosok, IPK saya kecil, saya gak punya dana, saya orangnya kuper, saya gak bisa bahasa Inggris, saya gak punya prestasi apa-apa, saya minder, bla, bla, bla… Apa mungkin saya bisa???”

Pokoke seluruh keluhan tentang kondisi dirinya keluar. Hanya satu tanggapan yang akan saya berikan:

“Hanya Anda yang tahu jawabannya… Sesungguhnya Allah itu sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya”

“Selama Anda berani dan mau mencoba, insya Allah akan ada jalan”.

Saya termasuk “alumni” orang-orang yang dulu sering tidak PD dengan kondisi diri dan selalu merasa minder dibandingkan orang lain yang “terlihat” lebih “hebat”. Padahal tanpa saya sadari, orang-orang yang telihat “hebat” itupun memiliki pikiran yang sama tentang diri saya… bahwa di mata mereka saya pun bisa “terlihat hebat”. Ternyata Allah memberikan semua orang kesempatan yang sama untuk mencoba, yang membedakan kemudian adalah niat, kemauan, dan aksi yang kita ambil setelahnya!

Jangan jadikan kondisi diri Anda sebagai alasan untuk membuat diri Anda sendiri ragu. Jangan sampai Anda memelas untuk dikasihani karena kondisi Anda itu. Tahukah Anda bahwa kebanyakan orang jatuh bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri yang menjatuhkan. Mengeluh gak akan menyelesaikan masalah. Cari solusinya, karena Allah memberikan masalah sepaket dengan solusinya. Syaratnya adalah mau mencarinya atau tidak.

Ganbarou!

“Man Jadda wa Jadda… Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil…”

Penulis: Danang Ambar Prabowo
Mahasiswa S3 University of the Ryukyus, Okinawa.
ex-Ketua PPI Okinawa 2011/2012
Tulisan-tulisannya tentang berbagai hal, terutama tentang fotografi dan motivasi kehidupan dapat ditemukan di blognya: http://danangambarprabowo.wordpress.com/